Monday, March 29, 2010

Kehidupan ibarat penggung drama terbesar...
kita bisa jadi siapa saja dalam panggung itu
Namun semua tidak cukup dengan suatu pilihan..
kita akan diberikan naskah dan "hei.." tidaklah mudah!
Perlu usaha yang keras untuk menjalankan dengan baik
Kadang kita nangis, kadang tertawa
Pada akhirnya semua orang akan bertepuk tangan
Kita senang bukan karena tepuk tangan itu
tapi karenakita telah berperan dengan sangat baik

Air mata dan kesedihan diciptakan untuk introspeksi diri
lihatlah dan manfaatkan saat ini untuk masa depan yang kita inginkan
terimalah kegagalan sebagai bentuk pelajaran, dan
jangan pernah katakan "TIDAK" untuk mencoba berulang kali

Sepupu ak yang bijak pernah mendapatkan kutipan baik dari orang bijak. "EVERYTHING WILL BE OK AT THE END" yang berarti, jika sekarang hidup yang kita jalani belum terasa OKE, tenang aja, kalian belum sampe tahap akhir kok ;)

semoga bermanfaat :)

Apa harus dengan anarkisme??

Demo menjadi kekuatan masyarakat untuk menentang perilaku pemerintah yang dianggap menyimpang oleh publik. Ini memang merupakan hal yang baik untuk dilakukan dalam sebuah pemerintahan yang demokratis. Demo menunjukan bahwa masyarakatpun ikut aktif dalam pemerintahan suatu negara. Namun, demo-demo yang terjadi di Indonesia sangatlah unik.

Demo atau unjuk rasa di Indonesia dilakukan sebagai rutinitas belaka tanpa sebuah nyawa. Unjuk rasa yang dilakukan masyarakat Indonesia banyak tidak memiliki bobot dan seolah-olah hanya "peramai" media saja. Dan yang lebih kacau lagi, sudah tidak berbobot, kadang berujung dengan sebuah tindakan anarkisme. Melempar-lempar batu, merusak properti, saling memukul satu sama lain, terkadangpun terjatuh korban jiwa.

Apa harus dengan sebuah kekerasan untuk menyuarakan pendapat? apakah tidak cukup sebuah unjuk rasa dilakukan, kemudian biarlah publik luas menilai dan bersimpati? Apakah dengan kekerasan lantas publik lain akan ikut bersimpati? TIDAK!! KITA SEMUA MUAK DENGAN SEMUA PERILAKU ITU.

Nampaknya pemerintahpun juga sudah muak dengan unjuk rasa-unjuk rasa yang terlalu sering dan banyak yang tidak berbobot. Hal ini membuat mereka sudah malas untuk meladeni sekumpulan warga yang berdemo.

Sungguh, alangkah indahnya disaat demo atau unjuk rasa bisa dilakukan secara sistematis dan berbobot. Di Australia, demo-demo baru dilakukan disaat sebuah kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah dirasa kurang baik. Itupun melalui sebuah proses yang panjang. Ada semacam situs pengumpul suara masyarakat yang memilih "IS THIS CASE WORTHY ENOUGH OR NOT" jika kasus yang terjadi tidak begitu parah, perwakilan dari masyarakat hanya sekedar memberikan sebuah teguran melalui surat atau media massa. JIka kasusnya membutuhkan sebuah perilaku yang lebih serius, maka mereka melakukan sebuah jadwal unjuk rasa dengan berdikskusi apa saja yang nanti akan dibahas. PAda hari H, sejumlah masyarakat yang telah berpartisipasi kemudian melakukan LONG MARCH dari suatu titip pertemuan awal ke kantor pemerintahan. Kemudian orasi dilakukan didepan gedung tersebut, setelah itu mereka kembali melakukan demonstrasi berjalan dan selesai. Pada saat itu medida massa telah meliput semua kegiatan mereka. Semua berjalan dengan tertib.

Jika demonstrasi yang dilakukan suatu masyarakat memang mengandung sebuah bobot, pastilah pemerintah akan merubah perilaku mereka dan memberikan yang terbaik buat masyarakatnya.

Tulisan ini terinspirasi tadi jam 6 setelah melihat sebuah berita di TV yang menayangkan adegan kericuhan antara elemen mahasiswa di Sulawesi Tenggara yang melakukan demonstrasi mengenai penggusuran pedagang kaki 5 dengan aparat keamanan setempat. Mereka mengamuk karena tidak percaya bahwa Bupati tidak berada ditempat. ~_~

Ayo INDONESIA!!!!! Kita bisa lebih baik, JAUH LEBIH BAIK DARIPADA INI......kita terkumpul dari manusia-manusia bermartabat dengan nilai-nilai agama yang luhur. Junjunglah tinggi nilai-nilai ini dan ingat, semua yang kita suarakan adalah untuk kebaikan dan kemajuan BANGSA INI.
MERDEKA!!!