Wednesday, July 29, 2009

Birokrasi Kampus Parah

Bagus buruk sebuah kampus sebenarnya tidak hanya diukur dari Fasilitas yang diberikan Kampus, Dosen yang disediakan, dan mahasiswa itu sendiri. Dalam pelaksanaannya, Layanan/service yang diberikan kampus sungguh harus dipertimbangkan.

Kita selaku Mahasiswa, telah mengorbankan segenap harta kita untuk berkuliah. Namun, kita dilayani layaknya kita ini seorang "outsider". Pernah ga sih lo lupa kelas lo dimana dan disaat bertanya kepada pihak kampus, kita di beri sebuah senyum KECUT? Pernah ga sih Lo lagi bener-bener butuh info, dan lo disuruh nunggu karena petugas sedang asik NGOBROL di telpon? Pernah ga sih lo SAKIT di saat sedang UTS ato UAS, dan lo harus ngurus segala macemnya dengan ribet hingga akhirnya lo ga bisa UJIAN dan ga LULUS mata Kuliah itu?

Itu baru sebagian kekurangan layanan yang diberikan oleh Kampus kita tercinta. Mereka, orang-orang yang melayani, seharusnya tahu bahwa disaat tugas merekalah untuk bisa melayani Mahasiswanya. Namun, proyeksi yang terjadi di Kampus Kita sungguh memprihatinkan. Mereka mengambil posisi terebut dan bertindak seolah mereka bisa mengatur Mahasiswa seenaknya. Hal paling mudah disaat kita menanya "Pak/Bu, apakah dosen "A" hari ini hadir???" Mereka menjawab "Liat aja di papan pengumuman (dengan muka kecut)" tidak banyak dari kita yang bertanya karena dalam papan pengumuman tidak tercantum info apa2....... disaat kita kembali mengoreksi "Mba/pak, di depan ga ada tulisan apa2...." kemudian mereka baru melihat file2 mereka dengan muka yang tidak mengenakan, kemudian baru menjawab.

Bayangkan, proses seperti itu tidak perlu dilakukan bila mereka langsung mengeceknya dari awal. Apa susahnya untuk mengecek info yang mereka punya?? waktu yang dibutuhkan tidak mencapai 5 menit.....namun mereka memilih untuk mempersibuk dan menjengkelkan orang lain....

wew ~_~

Tuesday, July 28, 2009

Mengambil Sikap

Kasus salah sambung baik itu dalam menelpon maupun dalam kita ber-SMS merupakan hal yang sudah sering terjadi. Namun, reaksi yang ditunjukan oleh orang-orang yang menerima "salah sambung ini" kian beragam. Baru aja tadi jam 10.00-an gwe ngirim sms ke temen-temen gwe terkait rapat yang mau diselenggarakan ZEPRET (klub fotografi kampus gwe).
Tiba-tiba ga lama setelah itu, salah satu temen gwe miscal. Spontan gwe langsung sms balik ke dia "knapa kok mc?"
Can u guess what's next???? dia bales "Siapa lo Anj##g!" Wah gwe pikir dia ga tau nomer gwe secara gwe emang ga pernah smsan sama dia sebelumnya. gwe reply dia dan gwe nulis nama gwe. eh tiba-tiba dia nelpon:

X: woi, siapa lo jing?
gwe: gwe Cadika "X(nama temen gwe)"......
X: Salah sambung lo, tau dari mana no gwe?? gwe ga kenal lo...(nadanya kya org lagi mabok dan kesel bgt....)
Gwe: oh jadi lo bukan X? ya udah si, knapa harus ribut....
X: Ya udah.... (masih keadaan marah)

(telepon dia matiin)

Gwe shock, karena gwe ga tau kenapa nomer itu gwe tulis dengan nama temen gwe?

WEW.....WHAT A FREAK!!! ~_~
Begitukah cara kita dalam bersikap? mungkin dirinya merasa tidak nyaman dengan adanya orang lain, yang tidak tahu siapa, dapat mengetahui nomer dia. Memang ada beberapa kasus dimana orang sengaja iseng berbuat demikian. Namun, orang yang inoccentpun banya.
Reaksi yang didapat dalam gambaran di atas sungguh memprihatinkan. Ada beberapa cara kok dalam menyikapi sebuah salah sambung (sms):

1. Ignore....
Abaikan saja.Kita ga kenal dan ga tau apa yang dimaksud juga kan? buat apa kita tanggepin
2. Curious Reply
Mungkin kita penasaran "siapa ya??" Ada kalanya kita tidak mengetahui nomer teman-teman kita semua. Bisa jadi pesan itu memang ditujukan untuk kita.
3. Isengin mode: ON
Dapet nomer aneh ato ga dikenal bagi seseorang sangat menghibur. Apa lagi orang yang lagi BT ato emang dasarnya tukang jahil. dirinya akan segera bertransformasi seaka-akan dirinya orang yang dituju dalam pesan........wkwkwkw ^^

Tidak ada yang bisa melarang kita untuk bersikap. Namun, sebaiknya sikap yang kita tunjukan terhadap orang lain sebaiknya adalah sikap santun karena kita semua ini Manusia, "And Human Deserves Being Treated as a Human"

Benarkah................

Terbang
-vaux-

Sayap terbentang........
Matapun fokus.....
Kepalaku mengadah menatap langit.....
Kuhempaskan sayap dan akupun terbang.......

Siapa yang tidak ingin terbang? Kita semua pasti ingin terbang dan memimpikan bagaimana diri kita bisa santai menyentuh awan-awan di angkasa layaknya seekor burung. Pandangan di depan hanyalah lautan awan putih yang tiap kali kita sentuh, terpecahlah gumpalan itu menjadi titik-titik air yang lembut. Dibawah, semua tampak kecil seolah-olah dengan genggaman tangan kita, kita bisa menggenggamnya. Kita nampak sungguh berkuasa. Namun, sensasi yang paling ingin dirasakan disaat kita mengelu-elukan untuk bisa terbang adalah "Freedom".

Kebebasan menjadi hal yang paling diinginkan oleh seluruh manusia. Sifat dasar manusia itu sendiri menginginkan sebuah "kebebasan". Jiwa mereka tidak pernah mau dikekang. Kita selaku manusia selalu saja berandai-andai "Jika saja diriku ini seekor burung..............." Namun, pernahkah dirikita bertanya "benarkah aku ingin bebas??"

Kata bebas sungguh ambigu. Banyak sekali arti dari sebuah kata B-E-B-A-S. Tapi dalam konteks diatas (dimana seseorang mencari kebebasan dan "berandai" menjadi seekor burung), kita ingin sekali melepas seluruh beban hidup kita, baik itu problema kecil hingga konflik yang sangat kompleks. Kita beranggapan kita akan merasakan sebuah "kenyamanan" karena kita akan berfikir "yeah....i got nothing to worry about"^^ Diri kita akan berkata "Aku ingin dalam keadaan ini selamanya"

Apakah benar itu yang kita inginkan?????

Pikirkanlah sejenak masalah-masalah yang kita miliki. Kemudian kita lari dari masalah-masalah itu. Selesaikah masalah kita? No.....masalah itu masih disitu menunggu untuk diselesaikan. Kebebasan yang dielu-elukan kemudian menjadi sirna. Pikiran kita akan terus dihantui oleh perasaan-perasaan bersalah. Sesuatu yang disembunyikan sebenarnya tidak akan pernah hilang.....

Pikirkanlah juga seandainya kita tidak memiliki masalah dan kita masih juga berandai dan menginginkan menjadi seekor burung yang "terbang-bebas". Jika kita masih terlarut untuk hal tersebut, maka kembalilah dengan bertanya:

"UNTUK APA AKU DICIPTAKAN??????"